Showing posts sorted by date for query anak. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query anak. Sort by relevance Show all posts

13 July 2026

Menuliskan Ketakutan? Siapa Takut!


(Gambar: Canva)


Di sore hari yang cerah, sekitar tahun 2002, dua orang anak perempuan–salah satunya aku–sedang beradu cepat mengayuh sepeda di jalanan komplek. Aku memacu sepeda dengan penuh semangat. Namun, tiba-tiba, aku mengayuh sangat cepat. Bukan karena temanku sudah jauh di depan, tapi karena seekor anjing mengejarku!


Itu anjing milik salah satu penghuni komplek yang dibiarkan bebas. Aku kaget karena anjing itu menggonggong dengan lantam dan berlari kencang persis di belakang sepedaku. Mendadak rasa takut menyergap. Aku melaju terlalu cepat dan kehilangan kendali. Brakk! Sepeda menabrak parit, aku terjerembap ke semak-semak.


Untungnya, anjing itu berhenti mengejar dan berbalik arah, meninggalkanku yang sudah memar-memar karena jatuh. Rasa takut karena ancaman digigit anjing pun hilang. Namun, ketakutan lain muncul. Aku takut dimarahi ibu.


Ah, membahas tentang perasaan, rasa takut sepertinya jadi salah satu yang sering dibahas. Seolah, hidup memang hanya tentang berpindah dari rasa takut yang satu ke rasa takut yang lain. Banyak sekali ketakutan yang membayangi. Apalagi bagi seorang perempuan.


Ketika perempuan bicara rasa, perasaan satu ini tidak terelakkan. Takut. Semasa kecil sampai remaja, takut dengan maraknya catcalling. Ketika menikah, takut tidak bisa menjadi istri yang baik. Saat hamil, takut dengan proses kehamilan dan persalinan yang menyakitkan. Ketika punya anak, makin banyak saja yang bisa membuat perasaan takut itu muncul.


Salah satunya rasa takut yang kerap kurasakan akhir-akhir ini menjelang tahun ajaran baru. Anak keduaku akan masuk sekolah playgroup. Ada rasa takut dan cemas yang tidak kurasakan sebelumnya ketika anak pertama mulai sekolah. Pasalnya, anak keduaku ini memang beda, dia … spesial. 


Dia memiliki gangguan komunikasi dan interaksi sosial atau yang dikenal dengan autisme. Sisi spesialnya ini membuatku takut akan kehidupan sosialnya di sekolah. Aku takut ia tidak happy, takut dia dianggap aneh, takut ia tidak diterima. Selain itu, aku juga takut dinilai sebagai ibu yang gagal. Jangan-jangan, aku memang ibu yang gagal?


Perasaan-perasaan itu bercampur aduk dan terus menumpuk. Seolah semua yang kutakutkan itu pasti menjadi nyata. Aku mulai meragukan langkah yang sudah kuambil untuk menyekolahkan anak spesialku ini. Berbagai tanya berkelindan tanpa jawaban, hingga aku mendengar sebuah penjelasan dari seorang dokter spesialis kejiwaan.


Dalam salah satu video di channel Youtube-nya, Dokter Jiemi Ardian, Sp.KJ menjelaskan bahwa perasaan kita bukanlah realita. “Kita merasa Bumi itu datar, tidak membuat Bumi jadi datar,” tegasnya. Perasaan bukanlah realita, tetapi perasaan yang terus menerus muncul dan diyakini sebagai kebenaran, bisa memengaruhi realita kita. Demikian penjelasan beliau dalam video berjudul “Belief & Knowledge”.


Ini adalah berita baik bagiku yang sedang galau dan takut. Perasaan bahwa aku adalah ibu yang gagal, tidak berarti benar begitu. Semua itu hanyalah perasaan, bukan kebenaran yang pasti terjadi. 


Di sisi lain, ini juga sebuah pengingat kalau aku harus mulai mengubah perasaan-perasaan ini. Jika tidak, perasaan takut ini akan bercokol dan menjadi keyakinan yang berefek buruk di realita kehidupanku. Akan tetapi, bagaimana mengubahnya? Salah satu caranya, menurut Dokter Jiemi, dengan bicara kepada teman, atau konsultasi dengan ahli, seperti psikolog dan psikiater.


Bagiku pribadi, menulis di blog ini adalah salah satu solusinya. Di blog ini, aku bisa menuangkan dengan leluasa segala perasaan yang berkecamuk, sekaligus memisahkan antara perasaan dan kenyataan. Selain itu, menulis juga menjadi caraku berbagi, siapa tahu ada perempuan lain yang merasakan hal serupa, dan tulisan ini bisa membantunya. So, it’s a win win solution.


Selain itu, aku juga meyakini kalau ini semua adalah takdir Allah, dan Allah akan memberikan solusi terbaik. Menjalaninya dengan penuh doa dan harapan sepertinya adalah cara meredam segala ketakutan.


Bagaimana denganmu? Apa yang sedang kamu rasakan? Bagaimana mengatasinya? Yuk, sharing di kolom komentar. Oh, by the way, sampai sekarang aku masih takut dengan anjing. 🙂


#Journeyto6thIpedia

#SuaraKitaCeritaKita

#IpediaBeritaBaik

Share:

17 May 2026

"The Good Nurse" dan Pentingnya Nahi Munkar


Kemarin aku menonton sebuah film di Netflix, judulnya The Good Nurse. Film ini bercerita tentang terungkapnya seorang perawat yang ternyata membunuh pasiennya. Eh, tapi, kok judulnya The Good Nurse? Karena yang dimaksud The Good Nurse tentunya bukan si pelaku ini, melainkan rekan sejawatnya yaitu Amy.


Amy adalah seorang perawat, single mother, dengan dua orang putri yang masih usia sekolah dasar. Hidupnya bisa dibilang pas-pasan, dan dia menderita sakit cardiomyopathy, salah satu jenis penyakit jantung. Suatu hari, ia memiliki rekan kerja baru, seorang perawat laki-laki bernama Charles Cullen yang sudah berpengalaman menjadi perawat di sembilan rumah sakit dan nursing home.


Amy dan Charles sering kerja satu shift dan mereka pun jadi akrab. Charles juga satu-satunya orang tahu kondisi kesehatan Amy. Charles sering membantu Amy, saat penyakit Amy memburuk. Charles juga akrab dengan anak-anak Amy.


Charles sendiri juga sudah berpisah dengan istrinya dan memiliki dua orang putri. Namun, kedua putrinya tinggal dengan mantan istrinya. Kemiripan ini juga yang mungkin membuat Amy nyaman berteman dekat dengan Charles. 


Sayangnya, setelah Charles bergabung di rumah sakit Somerset–tempat mereka bekerja, ternyata jumlah pasien di ICU yang meninggal bertambah. Anehnya lagi, beberapa pasien yang meninggal itu sebelumnya sudah membaik kondisinya, atau stabil. Akan tetapi, kondisi mereka tiba-tiba drop dan meninggal. Hasil lab pun aneh karena adanya jumlah glukosa darah yang tidak normal.


Awalnya tentu tidak ada yang curiga bahwa perawat lah yang membunuh para pasien itu. Namun, karena adanya temuan aneh dalam hasil lab para korban, pihak RS pun sempat bertanya ke pihak berwenang yaitu dinas yang mengurus toksisitas. Kemudian salah satu keluarga korban juga ada yang menuntut, dan kasus ini pun diselidiki oleh kepolisian setempat. 


Polisi menelusuri latar belakang Charles dan menemukan hal yang janggal. Pasalnya, semua rumah sakit tempat Charles pernah bekerja, tidak terbuka tentang Charles. Akhirnya polisi pun bertanya pada Amy yang akrab dengan Charles. Tadinya Amy tentu denial, tapi ternyata Amy sendiri menemukan bukti bahwa Charles memang membunuh para pasien di ICU.


Film ini berdasarkan kisah nyata, ada versi dokumenter juga. Aku sendiri tertarik menonton film ini karena pernah menulis berita serupa sekitar tahun 2015. Saat itu aku masih menjadi content writer di sebuah situs media online. Berita ini bisa dibilang viral pada masanya. Nah, kukira film ini based on kasus yang kutulis waktu itu, tapi sepertinya berbeda. Kasus di film The Good Nurse ini sudah lebih dulu terjadi dan terungkap. 


Ada sebuah pernyataan yang begitu membekas bagiku di ujung film The Good Nurse ini. Yaitu ketika Charles ditanya apa alasannya melakukan semua itu, ia menjawab, “karena tidak ada yang menghentikanku”. Ya, tidak ada yang menghentikan, sampai Amy mengambil risiko besar di tengah krisis kesehatannya, dan Charles pun ditangkap. 


Bukankah ini miris? Andaikan rumah sakit tempat ia bekerja sebelumnya berani mengungkap kecurigaan mereka, maka korban yang lebih banyak bisa dicegah. Namun, rumah sakit lain memilih tutup mulut karena khawatir mereka akan dituntut atas ulah pegawainya, atau menurunkan kepercayaan publik pada mereka.


Ini juga mengingatkanku dengan salah satu pesan penting dalam Islam yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Tolong menolong dalam kebaikan, dan melawan kemungkaran. Melawan kemungkaran di sini disesuaikan dengan kemampuan tiap orang.


Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan lisan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan hati. Itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim)


Kedengarannya mungkin mudah, tapi tidak semudah itu, tapi memang sangat penting untuk dilakukan. Jika semua orang melakukan nahi munkar ini, maka kemungkaran tidak merajalela. Wallahu a’lam. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjalankan hadis di atas. Amin.


Share:

29 April 2026

Seminggu setelah Hari Kartini, Perempuan Indonesia Berduka

 

Innalillahi wa innailaihi roji’un…

Wanita WNI sedang bersedih. Sedih banget. Padahal baru minggu lalu Hari Kartini, ketika perempuan dirayakan. Namun, akhir pekan kemarin kita dibuat sesak dengan kasus penganiayaan anak-anak di sebuah daycare di Jogja. Puluhan (bahkan ratusan) anak, dari usia bayi sampai TK, jadi korban pengasuh di daycare yang sudah bertahun-tahun beroperasi.

Bayi-bayi di sana ternyata sehari-hari diikat kakinya, tidak dipakaikan baju. Seharian! Gila banget kan! Baru dipakaikan baju ketika akan dijemput orang tuanya. Anak-anak balita pun sama, mereka tidak dibiarkan bermain, mereka diikat supaya tidak lari-larian. Makanan bekal mereka pun kerap dimakan pengasuhnya, atau dipaksa makan dengan cara yang tidak beradab. Anak-anak itu menangis dan dibiarkan saja berjam-jam. 

Bagaimana perasaan orang tuanya? Ibunya? Duh, jangan ditanya! Saya yang hanya mendengar beritanya di medsos saja langsung sedih sekaligus marah. Kok bisa ya, perempuan-perempuan yang seharusnya menjadi sosok keibuan, malah bertindak seperti itu? Gila! Astaghfirullaah…

Dan kasus itu baru terungkap, baru mulai diusut oleh polisi setempat. Namun, tiba-tiba kesedihan lain datang. Kecelakaan kereta di stasiun Bekasi Timur. KRL yang sedang berhenti tertabrak oleh KAJJ Argo Bromo Anggrek yang melaju cepat. Gerbong paling belakang, yang merupakan gerbong khusus wanita, ringsek, hancur tertabrak. Bahkan lokomotif KAJJ sampai masuk ke dalamnya! Innalillaahi wa innailaihi rojiun. 

Kejadian di jam 9 malam, masih jam sibuk, jam orang-orang pulang dari aktivitasnya. Ya Allah. Lagi-lagi wanita menjadi korban. Sejauh ini 15 korban meninggal dunia, semuanya wanita. Ada yang pegawai, ada yang guru, ada yang mahasiswa, busui, bahkan ibu yang baru tiga bulan melahirkan. Ya Allaah. 

Dua bencana dalam waktu berdekatan. Ya Allah. Kasian sekali wanita-wanita Indonesia ini. Saya benar-benar berdoa, berharap, semoga di masa depan, semakin banyak pria-pria, suami-suami, yang benar-benar bisa menafkahi lahir batin istri dan keluarganya, sehingga istri tidak perlu lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Pun, ketika istri bekerja, tidak perlu jauh-jauh, atau tidak perlu full day karena tidak dituntut memenuhi kebutuhan keluarga. Sungguh saya berharap demikian.

Dua kejadian ini membuat saya semakin yakin bahwa perempuan yang stay at home itu memang banyak manfaatnya. Selain melindungi diri perempuan itu sendiri, juga bisa melindungi anak-anaknya. Sungguh, saya berharap ke depannya para perempuan bisa terpenuhi kebutuhannya, termasuk kebutuhan aktualisasi diri dan bermanfaat bagi masyarakat, tanpa harus rutin keluar rumah dari pagi sampai malam seperti orang kerja kantoran (bahkan lebih). 

Semoga para korban diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran yang luas. Dan semoga bisa belajar dari kejadian-kejadian ini dan mengambil keputusan yang bijak. Amin. 


Share:

07 April 2026

Cerita Penuh Makna di Festival Peduli Autisme 2026


Tahukah kamu, tanggal 2 April adalah Hari Peduli Autisme Sedunia? Saya pun baru tahu belum lama ini. Kenapa? Ya, karena anak kedua saya didiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder) akhir tahun lalu. Sejak itu saya mencari tahu lebih banyak tentang autisme, dan bertemulah saya dengan akun IG @PeduliASD.


Nah, ternyata Peduli ASD ini mengadakan sebuah acara bertajuk Belajar Autisme Seharian:Bangga Membersamai Autistik pada 4 April kemarin di Pesona Square Mall Depok. Acara terbuka untuk umum, dan saya hadir sebagai peserta. 


Konsep acaranya seperti talkshow gitu. Narasumber di sesi pertama adalah Dokter Arifianto alias Dokter Apin, beliau adalah dokter spesialis anak konsultan neurologi anak. Nah, anak kedua saya juga beberapa kali konsul dengan beliau nih di Klinik Apin. Selain Dokter Apin, sesi satu diisi juga oleh Ibu Dante Ragmalia, beliau adalah ketua Komisi Nasional Disabilitas.


Di sesi pertama yang dipandu oleh Dr. Isti Anindiya ini, pembahasannya seputar realita yang dihadapi oleh anak ABK khususnya ASD. Miris tapi tidak mengherankan sebenarnya, bahwa individu dengan ASD di Indonesia masih banyak yang kesulitan mengakses layanan kesehatan misal untuk terapi. Kemudian, masih banyak juga stigma yang melekat, seperti anggapan bahwa autisme itu karena vaksin, atau karena dosa-dosa orang tua, atau lainnya.


Nah, dokter Apin juga meng-highlight bahwa pada ASD, lebih cepat terdeteksi dan diterapi, maka hasilnya bisa lebih baik. Orang tua harus lebih rajin membaca buku KIA dan memantau tumbuh kembang anak supaya ketika ada yang tidak sesuai dengan milestone bisa langsung dicari solusi.


Ah, baru sesi pertama saja sudah banyak ilmu yang didapat dari acara ini. Salah satu yang menarik juga, ternyata Ibu Dante sendiri adalah seorang penyandang disleksia sejak kecil. Beliau bercerita bahwa semasa sekolah, ia dipandang sebagai anak yang bodoh. Bahkan saat SMA ia dikeluarkan dari sekolah. 


Namun, ibunda beliau tidak menyerah begitu saja. Sang ibu mendorong anaknya agar ikut kejar Paket C, dan bisa mendapat ijazah setara SMA. Dengan ijazah itulah Ibu Dante bisa mendaftar ke perguruan tinggi. Perjalanan menempuh jenjang pendidikan tinggi juga tidak mudah bagi beliau. 


Di jenjang S2, beliau juga sempat berhenti dan DO. Namun, beliau tidak menyerah, dan akhirnya menemukan kampus yang mau menerima dan menyesuaikan dengan kebutuhan beliau. Pendidikan Ibu Dante berlanjut sampai jenjang S3, dan pernah mengikuti perkuliahan di University of Oslo di Norwegia. 


Salah satu pesan yang disampaikan Ibu Dante dalam acara Sabtu kemarin adalah, betapa beliau sangat bersyukur memiliki ibu yang tidak menyerah dengan kondisinya yang berkebutuhan khusus, sehingga beliau bisa berada di posisi sekarang.


Ah, sebuah kisah yang tentunya menghangatkan hati para orang tua dari anak ABK. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita harus berusaha lebih keras dan lebih semangat demi masa depan anak-anak yang spesial ini. 🙂


Oke, cerita sesi dua dan tiga akan saya tuliskan di postingan selanjutnya, ya. Insyaallah. 🙂



Share:

25 March 2026

Lebaran Jalan-jalan ke Goalpara Tea Park

Di tulisan kali ini, aku akan coba menceritakan tentang acara Lebaran kemarin. Sebenarnya tidak ada yang spesial di keluarga kami terkait tradisi Lebaran. Pilihannya antara kunjung-kunjung tetangga, atau silaturahim saudara.

Nah, karena tahun ini kami Lebaran di Sukabumi, di rumah ibuku, kedua hal ini malah tidak dilakukan. Haha. Karena rumah ibuku tetangganya hanya sedikit dan pada mudik. Saudara pun tak ada lagi, hanya keluargaku, kakakku, dan adikku yang berkumpul, dan lengkaplah kami. Alhamdulillah.

Karena kami tidak ada acara apa-apa setelah solat Idulfitri, kakakku mulai ngide. “Daripada cuma gegoleran dan makan ketupat seharian, gimana kalau jalan-jalan ke Sukabumi kota aja?” Dan ide itu disambut oleh suamiku yang ayo-ayo aja. Jadilah kami mendadak jalan-jalan ke Goalpara Tea Park.

Kami jalan dari rumah sekitar pukul 10, dan karena jalanan relatif lancar, jam 12 teng kami sudah sampai Kota Sukabumi. Tidak langsung ke Goalpara, kami mampir dulu di Wizz Mie untuk makan siang. Untungnya tidak terlalu ramai karena tempatnya juga baru buka jam 12.

Setelah makan siang dan solat, kami lanjut sesuai rencana ke Goalpara. Walaupun waktu sudah hampir setengah tiga sore, dan wahana di Goalpara tutup jam lima, kami tetap melaju. Ya, karena tanggung juga, mau ke mana lagi?

Tibalah di Goalpara Tea Park, alhamdulillah. Tempat ini sebenarnya bukan tempat baru bagi kami karena Lebaran tahun lalu pun jalan-jalan ke sini juga. Bedanya, tahun lalu itu cuaca sedang hujan, bahkan kabut sampai turun. Pengunjungnya juga ramai. Kali ini berbeda. Cuaca cerah, dan karena di pegunungan jadi terasa adem sejuk. Pengunjungnya tidak ramai, kami bisa naik wahana tanpa antri.


Goalpara Tea Park ini dibangun di tengah kebun teh yang sangat luas, ya. Di dekat tempat parkir mobil ada area hewan-hewan, seperti mini zoo. HTM-nya hanya 20 ribu untuk dewasa dan 15 ribu untuk anak-anak. Hewannya pun lucu-lucu lho, ada burung unta, alpaca, lalu domba-domba kecil, kuda (atau keledai ya?). Sebagian hewan dilepas begitu saja, dan memang jinak, anak-anak bisa memberi makan hewan-hewan ini.


Dari area parkir ada shuttle car untuk ke main area. Selain ada foodcourt, vila, dan cafe, di sini ada wahana seperti flying fox, perahu bebek, mountain car, rainbow slide, ATV, dan roller coaster mini. Kalau beli tiket terusan, bisa naik semua wahana. Kalau bukan tiket terusan, tiap kali naik wahana harus beli tiket dulu. Tiket wahana termasuk murah, sekitar 20-40 ribu, kecuali ATV 75 ribu.


Setelah puas (dan gempor) bermain wahana ini itu, kami langsung ciao mencari tempat makan lagi. Pilihan jatuh ke Kopi Nako yang terletak di Jalan Selabintana (kalau tidak salah). Tempatnya outdoor, luas, pilihan menu cukup banyak. Kami mengisi perut sekalian juga solat. 

Sekitar pukul setengah delapan malam, kami pun jalan pulang ke rumah ibu lagi.

Alhamdulillah lagi-lagi jalanan lancar, perjalanan hanya memakan waktu satu jam lebih sedikit. Padahal tahun-tahun sebelumnya, kami selalu terjebak macet berjam-jam di jalan utama Sukabumi ini. Mungkin karena masih hari pertama Lebaran, belum banyak orang wisata ke Pelabuhan Ratu atau Selabintana, jadi jalanan masih aman.

Dan begitulah cerita Idulfitri tahun 2026 ini. Alhamdulillah, anak-anak senang, semua senang walaupun tentu saja capek ya gaes. Hahaha. 

Share:

23 March 2026

Rekomendasi Tempat Terapi Tumbuh Kembang Anak

Dalam postingan ini saya akan memberikan testimoni mungkin lebih tepatnya, tentang tempat terapi tumbuh kembang anak yang mungkin udah banyak dikenal juga. Haha. Nama tempatnya adalah Terapeutik, cabangnya ada di mana-mana, termasuk di Jawa. 

Pertama kali ke Terapeutik itu pertengahan tahun 2024, tepatnya ke Terapeutik cabang Bintaro, di sebrang puskesmas Rengas. Nah, yang saya konsulkan adalah anak kedua yang waktu itu usianya hampir 2,5 tahun, tapi belum ada kata-kata yang keluar jelas selain “mama” dan “itu dia”. Wkwk. 


Kenapa saya pilih Terapeutik? Karena setelah browsing beberapa tempat, pilihan ini yang paling murah dan lokasinya cukup dekat. Ulasan di Google pun umumnya bagus. Jadilah saya ke sana. Dan alhamdulillah, walaupun dengan harga yang relatif murah, pelayanannya oke. Tempatnya mungkin tidak luas ya, tapi nyaman dan bersih. 


Waktu itu anakku konsultasi dengan psikolog anak, namanya Miss Vanda. Untuk konsul pertama ini, sebutannya assessment, kita bisa pilih ingin assessment dengan psikolog anak atau terapis, dan biayanya juga berbeda. Kalau proses assessment-nya sendiri saya tidak tahu apakah beda atau sama. 


Nah, apa saja yang dilakukan saat assessment ini? Pertama-tama orang tua yang akan ditanya seputar tumbuh kembang anaknya, mulai dari masa kehamilan, proses persalinan, newborn, sampai saat ini. Apa saja milestone-nya, apa yang tertunda, keluhan saat ini, keadaan lingkungan sosial, dsb. Semua harus dijawab dengan jujur, ya. 


Sebagai catatan, saat mengisi formulir pendaftaran secara online pun memang akan ditanya juga tentang tumbuh kembang anak. 


Nah, setelah wawancara dengan ortu, Miss Vanda mulai mengobservasi anak langsung. Caranya dengan memanggil, membuat bunyi-bunyian, mengajak bermain, membaca buku, atau memberi instruksi sederhana. 


Kalau menurut keterangan yang tertulis di formulir, durasi konsul atau assessment ini sekitar 30-45 menit kalau tidak salah. Namun, pengalaman saya, konsulnya bisa sampai satu jam, jadi informasi yang didapat oleh psikolognya juga lebih lengkap.


Setelah selesai konsul, Miss Vanda menyarankan untuk terapi sensori integrasi dan terapi wicara. FYI, kalau baru satu kali konsul gini psikolognya ngga langsung menentukan diagnosis, ya. Karena untuk tegak diagnosis, apalagi pada anak, tentu tidak semudah itu. Perlu observasi lebih lanjut, salah satunya ya lewat proses terapi itu.


Setelah selesai konsul, langsung ke bagian admin dan bayar biaya konsul. Waktu itu kalau tidak salah ingat sekitar Rp200.000. Di Terapeutik ini juga suka ada promo untuk biaya assessment, lho. Coba pantengin aja di media sosial mereka.


Last but not least, kalau merasa ada yang mengganjal seputar tumbuh kembang anak, jangan ragu untuk konsul ke ahli, ke dokter anak atau psikolog, ya. Lebih awal tertangani lebih baik. Apalagi sekarang, di Jabodetabek khususnya, sudah banyak pilihan klinik atau tempat terapi tumbuh kembang anak. Tinggal cari yang paling sesuai. :)


Terima kasih sudah membaca sampai selesai. Semoga informasi ini bermanfaat, ya.


Share:

17 March 2026

Teruntuk Diriku yang IRT Tulen


Disclaimer dulu, ini adalah opini pribadi saja, bisa jadi berbeda, dan itu tidak apa. 

“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”

Demikian sebuah kalimat yang saya temukan secara tak sengaja di kolom komentar media sosial–kalau tidak salah ingat. Sekilas membaca kalimat itu, tebersit dua perasaan yang bertentangan. Pertama, tidak setuju. Banyak IRT yang hebat di dunia ini menurut saya. Menjadi IRT itu sendiri adalah tanggung jawab besar, pekerjaan berat. 


Namun, di sisi lain, kalimat itu bisa jadi adalah fakta yang masih berlaku sampai saat ini. Kok bisa? Coba baca lagi baik-baik kalimat di atas, kemudian kita ingat-ingat, pada momen terkait perempuan, misal Hari Kartini, siapa yang biasa diundang untuk tampil di acara TV? Atau kalau zaman sekarang di acara podcast, siapa sosok perempuan yang diundang? Yap, most likely sosok perempuan pekerja, wanita karier, pemimpin perusahaan, dll. Contoh Najwa Shihab, mantan Menkeu Sri Mulyani, mantan Menlu Retno Marsudi, dan lain-lain. Wanita karier.


Pernahkah seorang IRT diundang tampil dalam rangka Hari Kartini? Atau hari-hari lain yang terkait pemberdayaan perempuan? Ah, iya, mungkin ada IRT yang diundang tampil, hanya jika dia punya anak banyak dan semuanya sukses. Sukses dalam kacamata masyarakat pada umumnya tentu saja–-semua jadi sarjana, dokter, pengusaha misalnya. 


Atau jika ia menempuh pendidikan setinggi-tingginya, S3 atau Ph.D. Barulah ia akan diundang tampil agar menjadi inspirasi bagi perempuan lain. Seolah, perempuan yang hebat, ya, yang seperti itu.


“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”


Dengan miris harus saya katakan, ini benar. Kalaupun ada, sangat langka. Aduhai, makanya tidak heran jika ada IRT-IRT yang merasa insecure, merasa tak cukup baik, tak cukup berdaya. Kemudian ia pontang-panting mencari sorot kamera agar perannya diakui dan mendapat validasi. Ah, bisa jadi aku adalah salah satunya.


Karena itu, tulisan ini adalah nasihat untuk diriku sendiri yang sering khilaf, lupa. Wahai diriku yang IRT tulen ini, jangan sering-sering buka media sosial dan membandingkan diri dengan orang lain. Jangan mencari validasi dari ingar-bingar dunia. Jangan. Akan tetapi, carilah validasi itu dalam kajian-kajian ilmu di masjid. Maka akan kita temukan, Allah yang memvalidasi pekerjaan sebagai IRT ini.


“... Maka perempuan yang salih adalah mereka yang taat (kepada Allah), dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada. Karena Allah telah menjaga mereka…” (QS An Nisa: 34)


Allah memberikan apresiasi besar pada IRT, pada perempuan yang tinggal di rumah, yang menjaga diri dari sorot kamera. Dan itu cukup. Validasi langsung dari Sang Maha Pencipta itu seharusnya sudah cukup. Ikhlaskanlah niat, kuatkan tekad. Insyaallah, yang muncul adalah nikmat. 


Sungguh tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri yang sering sekali khilaf dan kufur akan nikmat-Nya. Semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam menjalani peran ini. Amin. 



Share:

17 February 2026

Ketika Anak Sakit


Sepanjang karirku (eaaa…) sebagai ibu rumah tangga, salah satu momen paling menguras pikiran adalah ketika anak sakit. Ketika anak tiba-tiba demam, lemas, rasanya pikiran langsung buyar. Tidak bisa memikirkan hal lain selain bagaimana agar anak lekas sehat.


Ketika anak sakit, mendadak keseharian yang biasanya terasa membosankan, langsung terasa bergejolak. Ketika itu juga aku seolah diingatkan lagi bahwa hari-hari yang terkesan mundane, antar jemput anak sekolah, ternyata sangat berharga dan mewah. Selama anak dan keluarga dalam keadaan sehat wal ‘afiat, maka keadaan baik–baik saja.


Nah, ketika anak sakit inilah salah satu momen “ujian” bagi kita orang tua. Apakah kita bisa tetap tenang dan tidak panik? Apakah kita bisa bertindak sesuai teori yang sudah dipelajari? Apakah kita bisa bersabar? 


Menurut teori, jika anak demam, maka ditunggu sampai 3x24 jam sebelum membawanya ke dokter. Selama tidak ada tanda kegawatan, ibu harusnya bisa cukup tenang di periode itu, ya. Jika anak tidak nyaman bisa diberikan paracetamol sesuai dosis.


Namun, tanpa ilmu dan support yang cukup, hal ini tidaklah mudah. Mendengar anak merintih karena sakit, seharian terbaring di tempat tidur, makan juga hanya secuil, tentu kita bisa terbawa panik dan cemas. Kepanikan justru membuat kita mengambil tindakan yang sebenarnya tidak perlu. Seperti memberikan obat tanpa resep dokter, memaksa anak makan banyak, dll.


Untuk mencegahnya, kita harus membekali diri dengan ilmu yang cukup. Salah satu sumber rujukanku adalah buku dokter Apin yang berjudul Orangtua Cermat, Anak Sehat. Selain itu juga tulisan-tulisan Dokter Apin di medsos, dan dokter lainnya. Dengan bekal ilmu yang tepat, kita bisa lebih tenang ketika anak sakit. Kita juga bisa cepat mengambil tindakan ketika diperlukan.


Saya sendiri tipe yang kalau tidak perlu-perlu amat ke RS/klinik, ya tidak usah. Misal, demam baru sehari atau dua hari, tanpa tanda kegawatan, berarti belum perlu dibawa ke IGD RS. Karena RS itu kan tempatnya orang-orang sakit, berbagai virus dan bakteri berada di sana. Belum lagi orang-orang yang sakit tapi tidak pakai masker. Duh. Jadi, kalau memang tidak diperlukan ke RS, sebisa mungkin observasi di rumah dulu. 


Alasan lain, jika hanya demam, tanpa gejala lain, dokter pun hanya akan memberi resep paracetamol. Atau mungkin tambahan obat radang. Nah, sedangkan menurut buku Dokter Apin, diagnosis radang tenggorokan tidak bisa tegak hanya dengan melihat tenggorokan yang merah. Ah, kalau bahas obat bisa jadi panjang lebar. Wkwk. 


Intinya, jadi ibu memang harus banyak belajar, ya. Tetap semangat buibuu!


Share:

25 October 2025

Teman, Komunitas, dan Kesehatan Mental Ibu

Dulu kala, saya dan teman pernah bermain sebuah kuis random di internet. Salah satu pertanyaan di kuis itu adalah, “Siapa orang yang kamu tidak bisa hidup tanpanya?”. Di antara pilihan jawaban yang tersedia adalah teman dan orang tua. Saya dengan polosnya memilih orang tua, sedangkan teman saya menjawab teman.


Lalu dia bilang, “Aku mungkin bisa bertahan tanpa orang tua, atau jauh dari orang tua, tapi aku tidak bisa kalau hidup tanpa teman”. Saat itu saya hanya mengangguk saja. Sepuluh tahun berlalu, sekarang saya sangat setuju dengan jawaban teman saya waktu itu. 


Keberadaan orang tua jelas penting, dan salah satu support system terbesar. Akan tetapi, siapa yang bisa bertahan hidup sendirian tanpa teman? Kalaupun ada, saya yakin tidak banyak. Bahkan Allah memilihkan orang-orang terbaik untuk menjadi teman dan sahabat bagi Rasulullah saw. Keberadaan teman sangat penting bagi setiap orang, tak terkecuali seorang ibu.


Ibu mungkin sosok yang kuat, yang bisa melindungi anak dan keluarganya, tapi seorang ibu tetap perlu teman. Teman yang mendukung dan menguatkan, teman berbagi cerita dan jalan keluar, atau sekadar teman yang bisa saling memeluk dan menenangkan.


Sejumlah penelitian membuktikan hal ini. Bahkan, sebuah penelitian yang melibatkan 1082 ibu-anak di tahun 2019 menunjukkan bahwa hubungan sosial ibu dapat berefek positif pada kecerdasan anak. Jadi, lingkar pertemanan ibu bukan hanya penting bagi mental ibu itu sendiri, tetapi juga bagi anaknya.



Namun, menemukan teman yang sefrekuensi dan bisa mendukung kesehatan mental ibu terkadang tidaklah mudah. Terlebih lagi ketika baru pindah ke tempat yang asing, dan belum terbiasa dengan budaya sekitar. Nah, salah satu solusinya adalah dengan mencari teman melalui komunitas daring yang tepat. 


Saat ini ada banyak komunitas online yang dapat diikuti oleh ibu-ibu. Dua di antaranya adalah komunitas Ibu Profesional dan Ibu Punya Mimpi. Kedua komunitas ini mempertemukan ibu-ibu yang ingin menikmati perannya sebagai ibu, sekaligus membantu ibu meningkatkan kemampuan diri sesuai minat masing-masing.


Komunitas Ibu Profesional sendiri berdiri sejak Desember 2011 sebagai komunitas offline. Adalah Ibu Septi Peni Wulandani yang membangun komunitas ini di lingkungan rumahnya yaitu di Salatiga. Ibu Profesional kemudian berkembang pesat melalui jejaring online, dan hingga kini sudah memiliki ribuan anggota yang tersebar tak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. 


Senada dengan Ibu Profesional, Komunitas Ibu Punya Mimpi muncul di tahun 2020 untuk memberikan dukungan bagi para ibu yang kala itu tengah berjibaku dengan badai Covid-19. Komunitas Ibu Punya Mimpi menyediakan berbagai kelas online yang bisa diikuti para ibu sesuai dengan pace masing-masing.


Kedua komunitas ini bisa menjadi tempat yang nyaman bagi para ibu untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik, menjalani peran dengan bahagia, dan menemukan teman sefrekuensi. Keberadaan komunitas akan membuat ibu merasa menjadi bagian dari sesuatu dan tidak merasa sendirian. Dengan demikian, ibu pun bisa memiliki hubungan sosial yang lebih baik, dan mendukung kesehatan mental yang optimal. 


Jadi, sudahkah Ibu menemukan teman atau komunitas yang sefrekuensi itu? 


Share:

20 September 2025

Ternyata Banyak Ibu Merasa Kesepian!

“Being a stay at home mom is the loneliest kind of lonely, in which she was always and never by herself.”
(Barbara Kingslover dalam novel Flight Behaviour)

Salah satu “aha moment” bagi saya adalah ketika menemukan quote di atas. Karena saat itu saya benar-benar menyadari salah satu hal yang saya rasakan setelah menjadi ibu adalah kesepian. Bukan sekadar bosan ataupun lelah. Dan ternyata, banyak ibu-ibu yang merasakan hal sama. Apakah Ibu salah satunya?


Menurut American Psychological Association (APA), kesepian (loneliness) berarti perasaan tidak nyaman baik secara afektif maupun kognitif karena merasa sendirian atau terisolasi. Kesepian adalah hal yang subjektif, dan siapa saja bisa merasa kesepian.

Seorang ibu rumah tangga, misalnya, bisa merasa kesepian karena hanya bergelut dengan anak dan suami. Tumpukan pekerjaan rumah seolah mengikatnya sehingga tidak ada waktu untuk bergaul dengan teman. Pada satu titik, seorang ibu bisa merasa jenuh dan kesepian.

Dalam studi yang dilakukan oleh British Red Cross terungkap bahwa 43% ibu berusia di bawah 30 tahun sering atau bahkan selalu merasa kesepian. Penyebab terbesar adalah jarang bertemu dengan teman-teman setelah memiliki anak.

Wah, fakta ini sangat relate dengan saya yang langsung merantau ikut suami setelah menikah, dan langsung punya anak. Untungnya, kesepian itu tidak sampai terlalu parah. Pasalnya, kesepian yang berkepanjangan dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Kesepian Jenis Apa yang Ibu Rasakan?
Dikutip dari situs Psychology Today, ada tiga jenis kesepian berdasarkan sebabnya. Dapat dilihat pada infografis di bawah ini.

Kesepian jenis apa yang pernah atau sedang Ibu rasakan? Eits, jangan bersedih, juga tak perlu malu mengakuinya. Ibu tidak sendiri, kok. Lagipula, rasa kesepian ini bisa diatasi dengan beberapa cara.

Cara Mengatasi Kesepian
Menurut Mental Health Foundation, ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menghadapi kesepian ini.
  1. Melakukan kegiatan yang disukai, sebaiknya kegiatan yang bisa membuat kita merasa senang atau merasa puas. Contohnya menulis, membaca, menjahit, berkebun, apa saja. Sebagai muslim, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, salat dan berdzikir, tentu bisa menjadi kegiatan yang sangat baik. Sebaliknya, menonton berlebihan atau binge watching tidak termasuk dalam opsi ini karena hal tersebut justru dapat memperburuk perasaan kesepian setelahnya.
  2. Berolahraga atau aktivitas fisik. Mulai dari yang ringan seperti jalan kaki atau jogging, yang nyaman untuk Ibu lakukan.
  3. Cobalah berkomunikasi atau bergaul dengan orang-orang di sekitar. Mulai dari yang sederhana seperti menyapa tetangga saat berpapasan di jalan, atau berbasa-basi dengan penjual sayur langganan. Ini bisa memberi efek positif pada suasana hati kita, lho.
  4. Bertemu dengan teman senasib. Jika kamu seorang ibu rumah tangga, bertemu dan mengobrol dengan sesama ibu rumah tangga–terutama yang usianya tidak beda jauh–akan terasa menyegarkan. Refreshing! Kita tidak lagi merasa sendirian atau merasa paling sengsara.
  5. Bijak dalam menggunakan media sosial. Ini sangat penting, karena disadari atau tidak media sosial bisa memengaruhi mood dan perasaan kita. Follow-lah akun-akun yang tepat, batasi durasi membuka media sosial, dan pikirkan baik-baik sebelum mengunggah foto atau menuliskan komentar.
Semoga cara-cara tadi bisa membantu kita mengatasi kesepian, ya!

Referensi:
  • https://www.co-operative.coop/media/news-releases/shocking-extent-of-loneliness-faced-by-young-mothers-revealed
  • https://www.mentalhealth.org.uk/explore-mental-health/loneliness/help-and-advice
  • https://dictionary.apa.org/loneliness
  • https://www.psychologytoday.com/us/blog/lifetime-connections/201907/the-3-types-loneliness-and-how-combat-them

Share:

30 August 2025

Review Under the Queen’s Umbrella: Empat Sifat yang Perlu Dimiliki Seorang Ibu Selain “Galak”

                                                                                    (sumber gambar: Asian Wiki)


Under the Queen’s Umbrella adalah drama Korea yang tayang di tahun 2022. Drama ini bercerita tentang Ratu Hwa Ryeong yang memiliki lima orang anak laki-laki, dan salah satunya adalah putra mahkota yang akan menjadi penerus raja. Namun, Ibu Suri (mertua si ratu) berusaha menggagalkan hal itu. Bersama salah satu selir raja, Ibu Suri membuat rencana untuk menjatuhkan ratu dan anak-anaknya.


Untungnya, Ratu Hwa Ryeong pun sudah siap menghadapi serangan dari para musuh yang hendak mencelakai kelima putranya. 


Setelah menonton Under The Queen’s Umbrella, aku menyadari bahwa ternyata sifat galak yang identik dengan ibu-ibu itu tidak melulu buruk, lho. Asalkan diiringi dengan empat sifat berikut ini.


Cerdas

Sejak awal, sosok ratu atau permaisuri yang diperankan oleh Kim Hye-soo digambarkan memiliki sifat galak. Paling tidak kepada anak-anaknya yang semuanya laki-laki (dan ganteng-ganteng #eh).


Namun, sifat galak ini juga dibarengi dengan kecerdasan sang ratu. Baik kecerdasan mental maupun intelektual. Contohnya, ketika para pangeran diharuskan mengikuti ujian tertulis, Ratu Hwa Ryeong lebih dulu mempelajari ratusan  buku, agar bisa membantu anak-anaknya belajar dengan lebih fokus. Kalau tidak cerdas, pasti sudah pengsan dengan metode SKS (sistem kebut semalam) di usia tidak muda lagi. Hahaha.


Ia juga berkali-kali menjawab dengan elegan nyinyiran dari Ibu Suri. Bukan dengan marah atau mencak-mencak tak karuan. Hanya orang-orang yang cerdas yang bisa tenang menghadapi ibu mertua macam itu. Iya, kan?


Berani

Posisi Hwa Ryeong sebagai ratu tentu mendukungnya untuk memiliki keberanian. Namun, jika dibalik, tidak semua yang punya posisi tinggi itu berani mengambil keputusan yang benar. Bahkan sang raja dalam drama ini memiliki sejumlah ketakutan sehingga mengambil langkah yang salah.


Di salah satu episode, sang Ratu berani bicara di depan para menteri kerajaan ketika isu Putra Mahkota sakit merebak. Ia juga berani menghadapi dan bicara mengenai “kelainan” yang dimiliki anaknya. Ini juga perlu keberanian, karena sebagai ibu tentu ada keinginian menutupi kesalahan atau kekurangan anak.


Menjadi ibu yang cerdas itu bagus, tapi selain itu, penting juga untuk menjadi ibu yang berani. Berani membela diri dan keluarga jika di posisi yang benar, dan berani menghadapi masalah. 


Lembut

Walaupun digambarkan sebagai tokoh yang galak, kuat, tegas, Ratu Hwa Ryeong juga punya sisi lembut yang tidak kalah mencolok. Misalnya, ketika menenangkan pangeran (anak dari selir raja) yang mencoba bunuh diri. Ia mengobrol dengan santai sambil makan.


Begitu juga ketika ngobrol dengan anak tertuanya, Putra Mahkota, terlihat sisi lembut dan keibuannya. Jadi, kalaupun kita sering ngomel, jangan lupa, kelembutan itu tetap ada dan perlu dikeluarkan juga, ya, Bu.


Menghormati Suami

Sepanjang menonton serial ini, saya beberapa kali kesal pada karakter raja. Beberapa kali juga saya menebak bahwa Ratu akan mengamuk atau marah kepada suaminya itu. Ternyata tidak.


Sang Ratu tetap mematuhi aturan kerajaan, dan bicara kepada raja dengan sopan. Bahkan ketika hanya berduaan dengan raja, dan emosi sudah di ubun-ubun (alias menjelang episode akhir), si ratu ini tidak marah-marah atau mengamuk ke raja.


Respon Raja pun akhirnya tidak mengecewakan amat. Jadi, yaa, menurut saya sih ini salah satu sikap seorang istri yang perlu ditiru.


Nah, kalau empat sifat di atas sudah ada, maka sifat galak pun rasanya jadi bisa dimaklumi atau bahkan tertutupi. Menurut ibu-ibu gimana, nih?


Share: